Minggu, 26 Februari 2017

PEMBENIHAN LABI-LABI



Pemilihan dan jenis lingkungan hidup yang tepat untuk budidaya adalah merupakan salah satu persyaratan yang khusus diteliti. Perikanan merupakan salah satu tumpuan pemerintah dalam rangka mencukupi kebutuhan protein hewani di samping daging, telur dan susu.
            Usaha budidaya labi-labi sangat menarik dan perlu dikembangkan untuk menaikan taraf hidup para pembudidaya dan mencukupi kebutuhan protein.

Morfologi
Bentuk tubuh labi-labi sangat khas, yakni oval agak lonjong, pipih, dan tanpa sisik. Dengan bentuk tubuh yang demikian itu disebut berbentuk theca. Karapas dan plastron atau bagian bawah tubuh tang tidak tertutup cangkang, terbungkus oleh kulit yang liat. Labi-labi tidak bergigi, tetapi rahangnya sangat kuat dan tajam. Kulit tertutup oleh perisai yang berasal dari lapisan epidermis berupa zat tanduk.

Sifat Biologi
Labi-labi bernafas dengan paru-paru (pulmo), demikian juga dengan anak-anaknya yang baru menetas. Sepanjang hidupnya, labi-labi tidak pernah mengalami perubahan alat pernafasan yang berupa paru-paru tersebut. Karena bernafas dengan paru-paru, peredaran darahnya menyerupai peradaran darah m,anusia. Hanya, sekat antar kedua belahan jantungnya belum sempurna, sehingga darah bersih dan darah kotor masih tercampur di dalam jantung.

Jenis yang Dimanfaatkan
Dari beberapa jenis labi-labi yang belum dilindungi undang-undang adalah Trionyx cartilagineous dan Trionyx spincter / Trionyx spinifer. Kedua jenis labi-labi merupakan labi-labi yang banyak terdapat di perairan Indonesia.
Selain itu ada juga jenis labi-labi lain yang saat ini cukup popular untuk dibudidayakan, yakni jenis Trionyx sinesis Taiwanese yang merupakan jenis labi-labi yang didatangkan dari Taiwan.


Lokasi Usaha yang Tepat
Dalam usaha labi-labi perlu diperhatikan beberapa segi, baik dari segi social maupun ekonomi ataupun dari segi teknisnya sendiri.

Air
Keberhasilan usaha budidaya labi-labi sangat dipengaruhi leh air, untuk itu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
-        Sumber air.
-        Jumlah air.
-        Kualitas air, meliputi; DO, suhu, pH, amoniak, alkalinitas, kekeruhan, dan warna.
-        Kebersihan air.

Tanah Kolam
Sebelum membuat kolam untuk budidaya labi-labi, ada beberapa factor yang harus diperhatikan, antara lain;
-        Topografi
-        Jenis tanah (tanah liat, berpasir, dll)
-        Ketinggian
-         
Kolam Pemeliharaan
A.       Persyatan Kolam
Kolam dapat diartikan sebagai suatu genangan air yang dengan sengaja dibuat oleh manusia dan dalam keadaan dapat dikendalikan. Dengan kata lain, kolam tersebut dapat dengan mudah dikeringkan atau ditambah airnya sesuai dengan kebutuhan.
Persyaratan teknis yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut;
1.      Mudah dikeringkan
2.      Terhindar dari banjir
3.      Pematang
4.      Pintu pemasukan (inlet)
5.      Pintu pengeluaran (outlet)
6.      Kemalir
7.      Filter



Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan merupakan salah satu factor yang ikut menentukan keberhasilan usaha budidaya labi-labi. Kolam poemijahan harus dibangun di lokasi yang terbuka dengan maksud agar cahaya matahrai tidak terhalang dan langsung menyinari kolam sepanjang hari. Syarat lain yang diperhatikan adalah dasar kolam harus dari jenis Lumpur berpasir dan dinding pematang yang dibuat miring agar memudahkan induk labi-labi berjemur pada siang hari. Selain itu juga pematang dimanfaatkan untuk meletakkan pakan bagi labi-labi.

Persiapan Induk
a.    Bak karantina
b.    Kolam induk
c.    Induk Jantan dan betina

Pemijahan
Pemijahan labi-labi terjadi pada bulan Juli sampai Desember. Sebelum digunakan kolam pemijahan dikeringkan terlebih dahulu selama 3 – 5 hari. Dasar kandang dilapisi pasir halus setebal 20 cm untuk tempat menyimpan telur, saat labi-labi bertelur. Perbandingan induk jantan dan betina yang dilepaskan adalah 1 : 4 artinya 1 ekor jantan dan 4 ekor betina per m2 luas kolam. Induk akan bertelur setelah 7 – 12 hari setelah penebaran, biasanya bertelur pada malam hari pukul 20.00 – 02.00.

Penetasan Telur
Rumah penetasan
Penetasan telur dilakukan di tempat khusus di dalam ruangan tertutup yang biasanya disebut rumah penetasan (incubator) yang dibangun dengan dinding atap yang memadai, sehingga terkena sinar matahari langsung.
Proses penetasan

 
Induk labi-labi yang bertelur tidak boleh diganggu hinggaproses bertelur selesai, tandanya adalah jika labi-labi sudah meninggalkan sarangnya. Setelah induk masuk kembali ke dalam kolam, telur diambil dari sarangnya secara hati-hati. Sebaiknya diusahakan agar dalam proses pengambilan telur ini tidak terlalu lama. Telur labi-labi yang berada dalam kandang diambil secara hati-hati, kemudian disusun rata pada bak penetasan secara bertingkat atau berlapis. Setiap tingkat dilapisi dengan pasir halus hingga semua telur terkubur pasir halus. Selama proses penetasan berlangsung suhu di dalam ruangan tersebut diusahakan tetap stabil antarta 29–330C dengan kelembaban 85 – 95%. Cara mempertahankan suhu ruangan penetasan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pemanas lampu pijar. Telur labi-labi akan menetas setelah 40 – 45 hari atau paling lama 60 hari pada suhu ruangan 300C.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1997. Barito Utara Berhasil Membudidayakan Labi-labi. Kompas, 24 September 1997.
Hermawan, R. 1998. Kajian Usaha Budidaya Labi-labi (Trionyx caartilaginesus). Penebar Swadaya. Jakarta.
Karyono. 1998. Mencoba Penakaran Labi-labi. Trubus No.344 Juli 1998.

Waluyo dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Labi-labi Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

PEMBENIHAN LOBSTER AIR TAWAR


Lobster air tawar tidak hanya ikan konsumsi, tetapi bisa juga dijadikan ikan hiasan di dalam akuarium sebagai udang hias, lobster memiliki ciri khas yang tidak ditemukan pada ikan hias.  Selain bentuk tubuh yang unik, lobster air tawar yang memiliki warna khas dan beragam.
Lobster air tawar merupakan salah satu genus dari famili parastacidae yang mulai dikembangkan untuk budidaya petani ikan di Indonesia sejak tahun 2000.  Di beberapa negara, seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris, Cina, Kostarika, Ekuador, Fiji, Guatemala, Israel, Meksoko, Afrika Selatan, Dan Taiwan, budidaya lobster telah dilakukan sejak tahun 1980.  Di Indonesia, berbagai kajian ilmiah menunjukkan permintaan pasar terhadap lobster air tawar berkuran 5 – 10 cm relatif tinggi.
Secara fisik lobster air tawar memiliki warna dasar yang beragam atau fariatif.  Dari segi teknis, lobster air tawar dapat dipelihara di air tawar yang tidak selalu jernih dengan berbagai variasi wadah.  Jenis pakannya pun relatif banyak dan mudah diperoleh.  Hal yang menarik adalah lobster dikenal memiliki sifat pengembara yang tinggi, warna pada tubuh lobster berkilau, terutama jika terkena cahaya.

Klasifikasi Lobster
Lobster air tawar termasuk dalam kelas crustacea dengan ordo decapoda. Pada dasarnya terdapat famili atau kelaga besar lobster air tawar.  Berikut ini dipaparkan klasifikasi salah satu jenis lobster air tawar dari genus cherax.
Filum               :  Arthrapoda
Kelas                :  Crustacea
Sub kelas         :  Malacostraca
Ordo                :  Decapoda
Famili              :  Parastacidae
Genus              :  Cherax
Spesies                        :  Cherax quadricarinatus

                                       Cherax destruktor

                                       Cherax lorentz
                                       Cherax cairnsensis, dll.

Habitat Dan Penyebarannya
Lobster air tawar yang berasal dari famili astacidae, combaridae, dan parastacidae menyebar di semua benua, kecuali Afrika dan Antartika.  Lobster air tawar astacidae dan cambaridae tersebar dibelahan dunia utara, sedangkan parastacidae menyebar di dunia bagian selatan, seperti Australia, Indonesia bagian timur, Selandia Baru, dan Papua Nugini.  Habitat alam lobster air tawar adalah dana, rawa, atau sungai yang berlokasi di daerah pegunungan.

Morfologi Pada Lobster
Tubuh lobster terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut kepala dan bagian belakang disebut badan.  Dilihat dari organ tubuh lobster air tawar memiliki beberapa alat pelengkap :
·      Sepasang antena yang berperan sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan kondisi lingkungan.
·      Sepasang antanela untuk mencium pakan, 1 mulut, dan sepasang capit yang lebar dengan ukuran lebih panjang dibandingkan dengan ruas dasar capitnya.
·      Enam ruas badan agak memipih dengan lebar badan rata-rata hampir sama dengan lebar kepala.
·      Ekor.  Satu ekor tengah memipih, sedikit lebar dan dilengkapi duri-duri halus, serta dua pasang ekor samping.
·      Enam pasang kaki renang
·      Empat pasang kaki jalan.

Jenis dan Pola Makan
Lobster air tawar biasanya aktif mencari makan pada malam hari.  Lobster air tawar termasuk pemakan segala.  Bahan-bahan makanan dari hewani dan nabati sangat disukainya.  Lobster menyukai cacing-cacingan dan pakan buatan.
Lobster termasuk jenis hewan yang tidak rakus.  Kebutuhan pakan lobster sebenarnya sangat sedikit, yaitu hanya berkisar 2-3 gram per ekor lobster dewasa per hari.  Kebutuhan pakan tersebut digunakan untuk pertumbuhan, pergantian sel-sel yang sudah rusak, dan perkembangbiakan.

Pemilihan Calon Induk
Pemilihan induk sebaiknya dilakukan sejak lobster berumur 2-3 bulan.  Pada umur ini lobster mempunyai panjang tubuh 5-6 cm dengan ukuran tersebut berarti proses pertumbuhan lobster berjalan dengan baik.  Selain proses pertumbuhan, yang hars diperhatikan dalam memilih induk yang berkualitas adalah lobster harus memilki nafsu makan yang tinggi, gerakannya lincah, dan warna tubuhnya cerah.

Pemilihan Calon Induk
Calon induk yang sudah dipilih dipisahkan denagn lobster lain dengan memindahkannya ke wadah lain.  Pemindahan ini bertjuan untk emmpermudah pengontrolan.
Dalam pemeliharaan calon induk ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
·               Wadah pemeliharaan dan kepadatan tebar
·               Pengontrolan dan penyesuaian calon induk
·               Pemberian pakan
·               Pencegahan penyakit.

Kebiasaan Reproduksi
Perilaku lobster air tawar yang cukup menarik untuk diamati adalah aktifitasnya saat perkawinan hingga muncul juvenil.  Tahap awal yang dilaksanakan oleh setiap induk sebagai berikt :
·               Mencari pasangan
·               Melakukan percumbuan antar pasanagan
·               Melakukan perkawinan
·               Induk betina mengerami talur
·               Induk betina mengasuh benih hingga waktu tertentu.

Pemindahan Induk Yang Telah Bertelur
Induk betina yang telah mengeluarkan telur harus dipindahkan ke wadah lain agar telurnya menetas.  Pemindahan ini bertujuan untuk mencegah dimakannya telu-telur oleh induk jantan atau induk betina yang lain, karena pada dasarnya lobster air tawar adalah binatang yang memiliki sifat kanibal.

Penetasan Telur
Telur-telur yang dikeluarkan induk lobster akan menetas setelah sekitar 1 bulan.  Benih-benih akan lepas dari induknya setelah 4-5 hari sejak menetas.

Pemanenan
Pemanenan dilakukan setelah benih berumur 1-1,5 bulan.  Pemanenan dilakukan dengan cara menyipon air dan kemudian benih ditangkap dengan menggunakan scop net.
DAFTAR PUSTAKA
Asriani dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Lobster Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Karjono dan adijaya, Dian. “ lobster akuarium 10 bulan kembali modal “.  Trubus, april 2003.
Sukmajaya yade. “  lobster air tawar komoditas perikanan prospektif “.  Penerbit PT Agro media pustaka, 2003.

Wiyanto, R. “ lobster air tawar, pembenihan dan pembesaran “. Jakarta : penebar swadaya, 2003.

PEMBENIHAN IKAN OSCAR



Ikan oscar adalah salah satu jenis ikan hias yang banyak digemari oleh kalangan hobiis, karena ikan ini memiliki komposisi warna yang menarik sehingga dalam pemeliharaannya, ikan ini memerlukan makanan dan perawatan khusus. Bercak warna indah yang menempel pada tubuhnya tidak akan muncul apabila ikan ini mengalami stres. Terjadinya stres dapat merupakan satu langkah awal terserangnya ikan ini oleh organisme penyabab penyakit, sehingga selain pengetahuan tentang cara perawatan yang baik, pengetahuan tentang penyakit yang sering menyerang ikan oscar dan cara-cara menanggulanginya, perlu dimiliki oleh para hobiis ataupun para pembudidaya ikan hias ini. 
.
Sistematika
*   Ordo                            : Percomorpjoidei
*   Famili                          : Cichlidae
*   Genus                          : Astronotus
*   Spesies                        :Astronotus acellatus, Cuvier
Oscar termasuk pada golongan Cichlidae yang mempunyai ciri:
*   Susunan duri-duri keras pada farink
*   Mempunyai satu lubang hidung pada setiap sisi moncongnya
*   Badannya selalu memanjang dan pipih ke samping
*   Kepalanya relatif besar dengan moncong lebar dan tumpul
*   Linea lateralis terpotong menjadi 2 bagian.
Morfologi
Ikan Oscar memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan ikan nila, ia memiliki kepala yang besar dengan mulutnya lebar, bergerigi, agak meruncing, dan terletak di tengah (terminal). Sirip punggung (dorsal fin) berbentuk lebar yang ujungnya bersebrangan dengan sirip dada (pectoral fin), serta ujung sirip punggung dan sirip anus meruncing agak tumpul. Sirip ekornya berbentuk bulat (rounded).
Tubuhnya dilapisi warna dasar bervariasi, akan tetapi lebih sering ditemukan Oscar yang memiliki warna dasar hijau zaitun gelap atau coklat tua dengan coretan dan bintik-bintik tidak beraturan di bagian sisi yang berasal dari sisik yang berwarna kuning keemasan atau kemerah-merahan. Ikan jantan mempunyai beberapa tanda merah menyala pada tutup insang dan dekat daerah perut di samping. Kecerahan warna ikan ini sering berganti-ganti tergantung pada kondisi ikan. Ikan ini memiliki pergerakan yang gesit karena ditunjang dengan bentuk badan yang langsing, pipih ke samping (compressed).

Tingkah Laku
Ikan oscar  termasuk ikan yang cerdas, karena ikan ini mudah mengenali pemiliknya. Selain itu, dapat kita ketrahui bahwa ikan ini juga sensitif terhadap gerakan, intesnsitas cahaya, dan irama akan tetapi ikan ini juga mempunyai kebiasaan merusak atau mengganggu ornamen-ornamen yang ada di dalam akuarium.
Ikan oscar dewasa termasuk ikan buas, karena ia mempunyai kebiasaan memakan ikan-ikan yang berukuran kecil terlebih jika ikan itu bukan dari famili yang sama dengannya. Ikan oscar dapat hidup rukun apabila dipelihara dengan ikan dari Famili Chiclidae lainnya yang memiliki ukuran tubuh sama dengannya.

Makanan
Makanan yang biasa diberikan pada ikan oscar sangat variatif seperti ikan-ikan kecil, jentik nyamuk, ataupun potongan-potongan ikan lainnya. Akan tetapi, untuk menghasilkan ikan oscar yang memiliki kualitas warna yang baik, maka sebaiknya makanan yang diberikan pada ikan ini adalah makanan yang mengandung zat chitine. Jenis makanan yang mengandung zat chitine kebanyakan adalah makanan alami berupa hewan-hewan yang memiliki cangkang seperti kutu air, udang  kali, rayap, dan lain-lain.

Reproduksi
Ikan oscar dapat dipijahkan setelah mencapai ukuran panjang 15 cm dengan lebar 10 cm. Telur hasil pemijahan akan ditempatkan oleh induk oscar pada substrat yang memiliki permukaan licin seperti kaca, porselin, ataupun pecahan genting, dan selanjutnya akan dijaga oleh induk sampai telur tersebut menetas.
Ikan oscar dapat bertelur setiap 10 hari sekali dengan jumlah telur sekitar 1000-3000 butir per induk. Sepasang induk oscar dapat dipijahkan sampai 5 musim pemijahan atau sampai berumur 7 tahun. Semakin tua umur ikan oscar, maka kuantitas telur yang dihasilkannyapun akan semakin menurun.

Persiapan Sarana Pemijahan
*        Bak Pemijahan
Sarana pemijahan yang sering dipakai untuk memijahkan ikan oscar adalah berupa bak semen dengan ukuran 2 x 2 x 0,5 m. Sebelum digunakan, bak pemijahan dipersiapkan terlebih dahulu dengan melakukan kegiatan pembersihan bak dari kotoran dan sampah-sanpah. Apabila bak yang akan dipakai adalah bak yang baru dibuat, maka sebaiknya bak tersebut direndam dengan air sumur selama 4 minggu dengan perlakuan setiap 2 minggu sekali bak dikuras. Setelah itu lakukan penjemuran terhadap bak pemijahan, hal ini dilakukan selain untuk memberikan rangsangan terhadap oscar, juga untuk membunuh bibit penyakit yang diperkirakan bersarang dalam bak.
Setelah bak pemijahan disiapkan, selanjutnya air dimasukan ke dalam bak dengan ketinggian 25-30 cm. Sumber air yang dapat digunakan adalah air sumur ataupun air PAM, akan tetapi air tersebut perlu diendapkan selama 12-24 jam.

Substrat (Penempel Telur)
Telur ikan oscar bersifat adhesiv, artinya telur memerlukan tempat untuk menempel (substrat). Jenis substrat yang biasa digunakan dalam pemijahan ikan oscar adalah berupa batu yang memiliki permukaan datar ataupun bahan lain yang memiliki permukaan licin, seperti pecahan genting, porselin, kaca ataupun pipa paralon.
Sebelum dimasukan ke dalam bak pemijahan, substrat yang akan dipakai sebaiknya dicuci dahulu untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel agar tidak mengganggu telur. Jumlah substrat yang dimasukan disesuaikan dengan jumlah induk oscar yang akan dipijahkan. Untuk setiap pasangan induk oscar yang akan dipijahkan, cukup diberikan substrat 1 saja, dan substrat tersebut kita simpan di bagian sudut bak. Ukuran substrat yang ideal biasanya adalah 15 x 20 cm atau 20 x 20 cm.

Pemasukan Induk
Ikan oscar dapat dipijahkan dengan perbandingan induk jantan dan betina 1 : 1. Jumlah induk oscar yang akan dipijahkan, sebaiknya disesuaikan  dengan ukuran bak pemijahan 2 x 2 m dapat dimasukan induk sebanyak 4 pasang.

Proses Pemijahan
Proses pemijahan pada ikan oscar dimulai dengan gerakan-gerakan lincah dari induk jantan untuk memikat induk betina, kemudian kedua induk akan mencari tempat yang dianggap cocok dan membersihkannya. Setelah itu, induk betina akan mulai mengeluarkan telurnya di permukaan substrat, dan induk jantan akan langsung mengeluarkan spermanya untuk membuahi telur-telur tersebut.
Telur-telur hasil pemijahan tadi, akan dijaga oleh kedua induk, akan tetapi sering pula terjadi induk oscar memakan telur-telurnya kembali karena ia kekurangan makanan. Oleh karena itu untuk mencegah hal itu terjadi, maka sebaiknya telur-telur tadi kita pindahkan ke tempat lain untuk ditetaskan.

Penetasan Telur
Telur-telur hasil pemijahan sebaiknya di tetaskan di dalam wadah terpisah dengan bak pemijahan. Wadah yang biasa digunakan adalah akuarium yang diisi air setinggi 6-8 cm. Akuarium tersebut kita tempatkan pada tempat yang terlindung dari hujan dan panas yang berlebihan. Akuarium penetasan sebaiknya di aerasi untuk memenuhi kebutuhan oksigen terlarut bagi telur.

Gelembung udara yang dihasilkan oleh aerator jangan terlalu besar, hal ini bertujuan agar telur tidak terganggu.
Dalam waktu 3 hari, telur-telur yang kita tetaskan biasanya sudah mulai menetas. Larva ikan oscar tidak langsung kita beri makan, karena ia masih memiliki kantung kuning telur sebagai sumber makanannya. Pada umur 4 hari benih sudah mulai diberi makanan alami berupa kutu air. Benih yang dapat dihasilkan dari sepasang induk adalah 1000-3000 ekor.

Perawatan
Larva yang telah menetas selanjutnya kita pelihara di dalam akuarium penetasan sampai berumur 1 bulan. Selama pemeliharaan, ketinggian air dalam akuarium ditingkatkan secara bertahap setiap 7 hari sekali yaitu dari 6 cm menjadi 10 cm, 15 cm dan 20 cm.
Setelah berumur 1 bulan, benih-benih tersebut kita pelihara dalam bak berukuran 4 m2 dengan kepadatan 250 ekor per m2. Selama pemeliharaan, benih di beri makanan berupa kutu air ataupun cacing sutera. Makanan diberikan sebanyak 2-3 kali sehari secara adlibitum.

DAFTAR PUSTAKA

Afriantio, Eddy dan Evi Liviawati. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Yogyakarta : 1993
Daelami, Deden. Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya.
Jakarta :2001
Hakim A.R. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Oscar Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.