Kamis, 25 September 2014

HAMA IKAN



Predator
Ø  Yuyu/kepiting
Karakteristik hama:
·     Yuyu (ketam, Saesarma spp)atau kepiting merupakan predator di kolam pembenihan dan pendederan ikan, terutama pada budidaya ikan air tawar. Jenis kepiting yang paling merugikan adalah kepiting  sawah  Paratelphusa convexa dan kepiting sungai Paratelphusa tridentate.
·   Yuyu atau kepiting memangsa benih dengan cara menangkap benih menggunakan dua capitnya.
Pengendalian
·       Perencanaan pembangunan kolam harus memperhatikan kemungkinan adanya populasi yuyu atau kepiting. Jika di daerah yang akan dibangun kolam tersebut memiliki populasi yuyu atau kepiting dalam jumlah besar, maka dari awal sudah direncanakan pembangunan kolam dari bahan tembok atau beton.
·     Yuyu atau kepiting dapat dikendalikan dengan cara memberantas secara langsung, yakni menangkap dan membunuh di luar dan di lubang-lubang pematang dengan menggali lubang dan yang tertangkap langsung dimatikan. Bekas lubang ditimbun dengan tanah atau batu sehingga padat kembali.
·       Menaburkan sekam padi ke dalam lubang-lubang yuyu atau kepiting agar keluar dan pindah ketempat lain.
·   Insektisida dengan bahan aktif temephos dengan dosis 1-2 ppm (1-2 mg/liter) dapat digunakan untuk memberantas yuyu atau kepiting

Gambar ketam atau yuyu
 
Dipublikasikan oleh :
Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan

Selasa, 23 September 2014

PENGELOLAAN KOLAM TANAH

Kolam tanah adalah tempat budidaya ikan yang dasar kolamnya dari tanah. Setiap akan memulai budidaya ikan di kolam tanah, hendaknya lakukan pengolahan dasar kolam terlebih dahulu. Langkahnya terdiri dari penjemuran, pembajakan, pengapuran, pemupukan dan pengairan.
Kolam tanah banyak ditemukan di tengah-tengah perkampungan dan pekarangan rumah. Kolam tanah air tenang, bisa dibuat di tempat-tempat dengan sumber air terbatas.
Kelebihan kolam tanah dibanding kolam tembok, kolam terpal atau akuarium adalah kekayaan hayatinya. Karena tanah yang menjadi dasar kolam merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya berbagai organisme yang menunjang kehidupan ikan. Organisme tersebut bisa bermanfaat juga sebagai pakan alami bagi ikan.
Biaya pembuatan kolam tanah relatif lebih murah dibanding jenis kolam lainnya. Kolam tanah juga lebih fleksibel, gampang dialih fungsikan untuk tujuan lain seperti sawah. Wajar bila banyak pembudidaya ikan tradisional masih menggunakan jenis kolam ini.
Tipe kolam tanah
Terdapat berbagai tipe kolam tanah yang dikenal saat ini. Diantaranya kolam tanah dengan tanggul tanah, kolam tanah dengan tanggul tembok atau batu, dan kolam tambak air payau.
Kolam tanah dengan tanggul tanah biasanya digunakan oleh para petani ikan tradisional. Pembuatan kolam tipe ini murah dan mudah. Namun pemeliharaannya perlu ketelatenan karena tanggul kolam mudah rusak dan bocor. Tanggul tanah juga seringkali dirusak binatang-binatang yang suka menggali seperti kepiting.
Kolam tanah dengan tanggul tembok disebut juga kolam semi intensif. Kolam ini lebih awet dan tahan lama. Tanggul kolam juga tidak akan rusak diganggu binatang. Kolam seperti ini bisa digunakan untuk budidaya ikan lele ataubudidaya belut yang dikenal sering membuat lubang.


Description: Persiapan kolam tanah
Kolam tanah dengan tanggul tanah dan tanggul tembok. (Gambar: Gusrina, 2008)

Tambak air payau biasanya digunakan oleh petani ikan yang dekat dengan laut. Tambak merupakan kolam air tenang dengan ukuran yang relatif besar. Biasanya tidak kurang dari 1000 m2 satu kolamnya. Sumber pengairan tambak berasal dari air laut atau muara sungai. Sehingga air kolam tambak rasanya payau.

Pengeringan kolam

Pengeringan kolam tanah harus dilakukan setiap kali budidaya ikan dimulai. Caranya dengan mengosongkan isi kolam dan menjemur dasar kolam. Penjemuran berlangsung selama 3-7 hari tergantung cuaca dan jenis tanah.
Sebagai patokan, penjemuran sudah selesai apabila tanah terlihat retak-retak. Penjemuran yang terlalu lama akan menyebabkan tanah membatu. Sebaiknya jangan sampai seperti itu. Untuk mengukurnya, injak dasar kolam. Bila telapak kaki kita hanya meninggalkan jejak sedalam kurang lebih 1 cm, pengeringan sudah dianggap cukup. Bila jejak yang ditinggalkan masih dalam, penjemuran belum maksimal.
Pengeringan dasar kolam tanah dilakukan untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit yang mungkin ada pada periode budidaya sebelumnya. Sebagian besar mikroorganisme patogen akan mati dengan sinar matahari kekeringan. Selain itu, penjemuran juga membantu menghilangkan gas-gas beracun yang terperangkap di dasar kolam.

Pembajakan tanah

Dasar kolam yang telah dikeringkan dan dijemur, selanjutnya diolah dengan cara dibajak atau dicangkul. Kedalaman pembajakan sekitar 10 cm. Pembajakan tanah berfungsi untuk membalik tanah agar tanah menjadi gembur.
Bersamaan dengan pembajakan, angkat lumpur hitam yang biasanya tersisa di dasar kolam. Lumpur hitam tersebut terbentuk dari sisa pakan yang tidak habis dimakan ikan. Lumpur hitam biasanya menimbulkan aroma busuk dan mengandung gas beracun seperti hidrogen sulfida (H2S), nitrit (NO2) dan amoniak (NH3).
Disamping itu, lakukan pemeriksaan terhadap pematang atau tanggul-tanggul. Bila ada kebocoran atau rusak segera ditambal. Bersihkan juga dasar kolam dari kerikil dan sampah anorganik.

Pengapuran kolam tanah

Kolam tanah yang telah dipakai budidaya ikan biasanya keasaman tanahnya meningkat (pH-nya turun). Oleh karena itu perlu dinetralkan dengan memberikan kapur pertanian atau dolomit. Derajat keasaman ideal bagi perkembangan ikan biasanya berkisar pH 7-8. Bila derajat keasaman tanah kurang dari itu perlu pengapuran.
Jumlah kapur yang diberikan untuk menetralkan pH sekitar 2 ton/ha. Namun jumlah pastinya harus disesuaikan dengan pH tanah dan jenis tanah. Pada jenis tanah liat berlumpur, takaran pengapuran untuk menetralkan pH tanah adalah sebagai berikut:
§  pH kurang dari 4,0  jumlah kapur 4 ton/ha
§  pH 4,0 – 4,4 jumlah kapur 3 ton/ha
§  pH 4,5 – 5,0 jumlah kapur 2,5 ton/ha
§  pH 5,1 – 5,5 jumlah kapur 2 ton/ha
§  pH 5,6 – 6,5 jumlah kapur 1 ton/ha
Dosis di atas perlu ditambah bila jenis tanahnya semakin dominan tanah liat. Sedangkan untuk tanah yang semakin berpasir, dosis pengapurannya dikurangi.
Pengapuran diaplikasikan bersamaan dengan pengolahan tanah. Kapur diaduk dengan tanah yang telah dibajak hingga merata. Usahakan agar kapur tercampur hingga kedalaman 10 cm. Setelah itu, kolam didiamkan selama 2-3 hari.


Pemupukan kolam tanah

Setelah proses pengapuran selesai, langkah selanjutnya adalah pemupukan. Sebaiknya gunakan pupuk organik sebagai pupuk dasar. Apabila dirasa kurang, bisa ditambahkan pupuk kimia atau penyubur tanah lainnya. Pupuk organik mutlak diperlukan untuk mengembalikan kesuburan tanah.
Pupuk organik akan merangsang aktivitas kehidupan dalam tanah. Tanah yang kaya bahan organik merupakan surga bagi berbagai macam organisme untuk berkembang biak. Organisme tersebut nantinya sangat bermanfaat sebagai pakan alami ikan.
Jenis pupuk organik yang digunakan bisa pupuk kompos atau pupuk kandang. Dosisnya sekitar 1-2 ton per hektar. Pupuk ditebarkan secara merata di permukaan dasar kolam. Bila dirasa kurang, bisa ditambahkan pupuk kimia. Pupuk kimia yang sering dipakai untuk dasar kolam adalah urea dan TSP. Setelah dipupuk, kolam dibiarkan selama 1-2 minggu. Selanjutnya, kolam siap untuk diisi air.

Penggenangan kolam

Tahap terakhir persiapan kolam tanah adalah penggenangan kolam dengan air. Caranya dilakukan secara bertahap. Pertama-tama genangi dasar kolam dengan air setinggi 10-15 cm. Dengan kedalaman air seperti ini sinar matahari masih bisa menembus dasar kolam. Sehingga berbagai macam tumbuhan dan hewan bisa berkembangbiak.
Biarkan kondisi tersebut selama 2-3 hari. Warna air akan terlihat kehijauan. Itu tandanya gangang sebagai makanan biota air dan ikan telah tumbuh. Setelah itu ketinggian air bisa dinaikkan hingga 60-75 cm dan kolam siap untuk ditebari benih ikan.
—–
Referensi
1.     Ghufran Kordi. 1997. Budidaya ikan nila. Dahara Prize, Semarang.
2.    Gusrina. 2008. Budidaya ikan Jilid I [pdf]. Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta.
3.    Kholis Mahyuddin. 2012. Panduan lengkap agribisnis lele. Penebar Swadaya, Jakarta.


BUDIDAYA IKAN LELE

Budidaya Ikan Lele
Budidaya ikan lele secara intensif  memang sangat menguntungkan, karena ikan lele masih sanggup hidup dengan padat tebar yang tinggi, yang bahkan memiliki tingkat konversi pakan menjadi bobot tubuh.
Segmen pembenihan, bertujuan menghasilkan benih ikan lele, sedangkan pembesaran tujuannya menghasilkn ikan lele siap konsumsi.
Tahap-tahap pembesaran budidaya ikan lele
PEMBESARAN
1.  Persiapan kolam
Dalam kegiatan budidaya ada tiga tipe persiapan wadah budidaya, hanya saja bisa disesuaikan dengan kondisi lingkungan, jumlah tenaga kerja dan sumber dana yang ada. Tipe-tipe wadah budidaya yaitu, kolam tanah, kolam terpal, kolam semen, keramba jarring apung.
Kali ini akan membahas wadah budidaya kolam tanah. Tahap pengelolaannya sebagai berikut:
a.    Pengeringan dan pengolahan tanah
Sebelum benih ikan lele ditebarkan, kolam harus dikeringkan telebih dahulu. Lama pegeringan berkisar 3-7 hari atau bergantung pada teriknya sinar matahari. Sebagai patokan, apabila permukaan tanah sudah retak-retak, kolam bisa dianggap sudah cukup kering.
Pengeringan kolam bertujuan untuk memutus keberadaan mikroorganisme jahat yang menyebabkan bibit penyakit. Mikroorganisme tersebut bisa bekembang dari periode budidaya ikan lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan penjemuran, sebagian besar mikroorganisme patogen akan mati.
Setelah dikeringkan, permukaan tanah dibajak atau dibalik dengan cangkul. Pembajakan tanah diperlukan untuk memperbaiki kegemburan tanah dan membuang gas beracun yang tertimbun di dalam tanah.
Bersamaan dengan proses pembajakan, angkat lapisan lumpur hitam yang terdapat di dasar kolam. Lumpur tersebut biasanya berbau busuk karena menyimpan gas-gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida. Gas-gas itu terbentuk dari tumpukan sisa pakan yang tidak dimakan ikan.
b.    Pengapuran dan pemupukan
Pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan keasaman kolam dan membantu memberantas mikroorganisme patogen. Jenis kapur yang digunakan adalah dolomit atau kapur tohor.
Pengapuran dilakukan dengan cara ditebar secara merata di permukaan dasar kolam. Setelah ditebari kapur, balik tanah agar kapur meresap ke bagian dalam. Dosis yang diperlukan untuk pengapuran adalah 250-750 gram per meter persegi, atau tergantung pada derajat keasaman tanah. Semakin asam tanah semakin banyak kapur yang dibutuhkan.
Langkah selanjutnya adalah pemupukan. Gunakan paduan pupuk organikditambah urea dan TSP. Jenis pupuk organik yang dianjurkan adalah pupuk kandang atau pupuk kompos. Dosisnya sebanyak 250-500 gram per meter persegi. Sedangkan pupuk kimianya adalah urea dan TSP masing-masing 15 gram dan 10 gram per meter persegi. Pemupukan dasar kolam bertujuan untuk menyediakan nutrisi bagi biota air seperti fitoplankton dan cacing. Biota tersebut berguna untuk makanan alami ikan lele.
c.    Pengaturan Air Kolam
Ketinggian air yang ideal untuk budidaya ikan lele adalah 100-120 cm. Pengisian kolam dilakukan secara bertahap. Setelah kolam dipupuk, isi dengan air sampai batas 30-40 cm. Biarkan kolam tersinari matahari selama satu minggu.
Dengan kedalaman seperti itu, sinar matahari masih bisa tembus hingga dasar kolam dan memungkinkan biota dasar kolam seperti fitoplankton tumbuh dengan baik. Air kolam yang sudah ditumbuhi fitoplankton berwarna kehijauan.
Setelah satu minggu, benih ikan lele siap ditebar. Selanjutnya, air kolam ditambah secara berkala sesuai dengan pertumbuhan ikan lele sampai pada ketinggian ideal.


2.  Pemilihan Benih Ikan
a.    Syarat benih unggul
Benih yang ditebar harus benih yang benar-benar sehat. Ciri-ciri benih yang sehat gerakannya lincah, tidak terdapat cacat atau luka dipermukaan tubuhnya, bebas dari bibit penyakit dan gerakan renangnya normal. Untuk menguji gerakannya, tempatkan ikan pada arus air. Jika ikan tersebut menantang arah arus air dan bisa bertahan berarti gerakan renangnya baik.
Ukuran benih untuk budidaya ikan lele biasanya memiliki panjang sekitar 5-7 cm. Usahakan ukurannya rata agar ikan bisa tumbuh dan berkembang serempak. Dari benih sebesar itu, dalam jangka waktu pemeliharaan 2,5-3,5 bulan akan didapatkan lele ukuran konsumsi sebesar 9-12 ekor per kilogram.

b.    Cara Menebar Benih
Sebelum benih ditebar, lakukan penyesuaian iklim terlebih dahulu. Caranya, masukan benih dengan wadahnya (ember/jeriken) ke dalam kolam. Biarkan selama 15 menit agar terjadi penyesuaian suhu tempat benih dengan suhu kolam sebagai lingkungan barunya. Miringkan wadah dan biarkan benih keluar dengan sendirinya. Metode ini bermanfaat mencegah stres pada benih.
Tebarkan benih ikan lele ke dalam kolam dengan kepadatan 200-400 ekor per meter persegi. Semakin baik kualitas air kolam, semakin tinggi jumlah benih yang bisa ditampung. Hendaknya tinggi air tidak lebih dari 40 cm saat benih ditebar. Hal ini menjaga agar benih ikan bisa menjangkau permukaan air untuk mengambil pakan atau bernapas. Pengisian kolam berikutnya disesuaikan dengan ukuran tubuh ikan sampai mencapai ketinggian air yang ideal.
3.  Pengelolaan Pakan
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan lele. Ada banyak sekali merek dan ragam pakan di pasaran. Pakan ikan lele yang baik adalah pakan yang menawarkan Food Convertion Ratio (FCR) lebih kecil dari satu. FCR adalah rasio jumlah pakan berbanding pertumbuhan daging. Semakin kecil nilai FCR, semakin baik kualitas pakan.



a.    Pemberian pakan utama
Sebagai ikan karnivora, pakan ikan lele harus banyak mengandung protein hewani. Secara umum kandungan nutrisi yang dibutuhkan ikan lele adalah protein (minimal 30%), lemak (4-16%), karbohidrat (15-20%), vitamin dan mineral.
Berbagai pelet yang dijual dipasaran rata-rata sudah dilengkapi dengan keterangan kandungan nutrisi. Tinggal kita pandai-pandai memilih mana yang bisa dipercaya. Ingat, jangan sampai membeli pakan kadaluarsa.
Pakan harus diberikan sesuai dengan kebutuhan. Secara umum setiap harinya ikan lele memerlukan pakan 3-6% dari bobot tubuhnya. Misalnya, ikan lele dengan bobot 50 gram memerlukan pakan sebanyak 2,5 gram (5% bobot tubuh) per ekor. Kemudian setiap 10 hari ambil samplingnya, lalu timbang dan sesuaikan lagi jumlah pakan yang diberikan. Dua minggu menjelang panen, persentase pemberian pakan dikurangi menjadi 3% dari bobot tubuh.
Jadwal pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan nafsu makan ikan. Frekuensinya 4-5 kali sehari. Frekuensi pemberian pakan pada ikan yang masih kecil harus lebih sering. Waktu pemberian pakan bisa pagi, siang, sore dan malam hari.
Ikan lele merupakan hewan nokturnal, aktif pada malam hari. Pertimbangkan pemberian pakan lebih banyak pada sore dan malam hari. Si pemberi pakan harus jeli melihat reaksi ikan. Berikan pakan saat ikan lele agresif menyantap pakan dan berhenti apabila ikan sudah terlihat malas untuk menyantapnya.
b.    Pemberian Pakan Tambahan
Selain pakan utama, bisa dipertimbangkan juga untuk memberi pakan tambahan. Pemberian pakan tambahan sangat menolong menghemat biaya pengeluaran pakan yang menguras kantong.
Apabila kolam kita dekat dengan pelelangan ikan, bisa dipertimbangkan pemberian ikan rucah segar. Ikan rucah adalah hasil ikan tangkapan dari laut yang tidak layak dikonsumsi manusia karena ukuran atau cacat dalam penangkapannya. Bisa juga dengan membuat belatung dari campuran ampas tahu.
Keong mas dan limbah ayam bisa diberikan dengan pengolahan terlebih dahulu. Pengolahannya bisa dilakukan dengan perebusan. Kemudian pisahkan daging keong mas dengan cangkangnya, lalu dicincang. Untuk limbah ayam bersihkan bulu-bulunya sebelum diumpankan pada lele.
Satu hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pakan ikan lele, jangan sampai telat atau kurang. Karena ikan lele mempunyai sifat kanibal, yakni suka memangsa sejenisnya. Apabila kekurangan pakan, ikan-ikan yang lebih besar ukurannya akan memangsa ikan yang lebih kecil.
4.  Pengelolaan Kualitas Air
Hal penting lain dalam budidaya ikan lele adalah pengelolaan air kolam. Untuk mendapatkan hasil maksimal kualitas dan kuantitas air harus tetap terjaga.
Awasi kualitas air dari timbunan sisa pakan yang tidak habis di dasar kolam. Timbunan tersebut akan menimbulkan gas amonia atau hidrogen sulfida yang dicirikan dengan adanya bau busuk.
Apabila sudah muncul bau busuk, buang sepertiga air bagian bawah. Kemudian isi lagi dengan air baru. Frekuensi pembuangan air sangat tergantung pada kebiasaan pemberian pakan. Apabila dalam pemberian pakan banyak menimbulkan sisa, pergantian air akan lebih sering dilakukan.

5.    Pengendalian Hama Penyakit Ikan
Hama yang paling umum dalam budidaya ikan lele antara lain hama predator seperti linsang, ular, sero, musang air dan burung. Sedangkan hama yang menjadi pesaing antara lain ikan mujair. Untuk mencegahnya yaitu dengan memasang saringan pada jalan masuk dan keluar air atau memasang pagar di sekeliling kolam.
Penyakit pada budidaya ikan lele bisa datang dari protozoa, bakteri dan virus. Ketiga mikroorganisme ini menyebabkan berbagai penyakit yang mematikan. Beberapa diantaranya adalah bintik putih, kembung perut dan luka di kepala dan ekor.
Untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi adalah dengan menjaga kualitas air, mengontrol kelebihan pakan, menjaga kebersihan kolam, dan mempertahankan suhu kolam pada kisaran 28oC. Selain penyakit infeksi, ikan lele juga bisa terserang penyakit non-infeksi seperti kuning, kekurangan vitamin dan lain-lain.

6.    Pemanenan
Ikan lele bisa dipanen setelah mencapai ukuran 9-12 ekor per kg. Ukuran sebesar itu bisa dicapai dalam tempo 2,5-3,5 bulan dari benih berukuran 5-7 cm. Berbeda dengan konsumsi domestik, ikan lele untuk tujuan ekspor biasanya mencapai ukuran 500 gram per ekor.
Satu hari (24 jam) sebelum panen, sebaiknya ikan lele tidak diberi pakan agar tidak buang kotoran saat diangkut. Pada saat ikan lele dipanen lakukan sortasi untuk misahkan lele berdasarkan ukurannya. Pemisahan ukuran berdampak pada harga. Ikan lele yang sudah disortasi berdasarkan ukuran akan meningkatkan pendapatan bagi peternak.
Daftar Pustaka
Alamtani



Senin, 22 September 2014

Budidaya ikan lele Sistem Biofloc



Aplikasi teknologi biofloc yaitu pembesaran lele super intensif dengan menggunakan managemen pengelolaan pakan yang baik, pemilihan strain ikan yang tepat, dan pemilihan probiotik yang handal. Dengan luas tanah 100 m2 mampu memproduksi 4 ton ikan lele, dengan penghasilan kotor 8-10 juta.
Kiat budidaya ikan lele menggunakan system biofloc
Teknologi biofloc
Intensifikasi budidaya melalui peningkatan padat tebar benih dan penggunaan pakan berprotein tinggi dilakukan guna meningkatkan produksi benih per satuan luas.  Kegiatan tersebut cukup berisiko jikakurang tepat dalam pengelolaannya, karena menghasilkan bahan organik dalam jumlah besar yang memacu peningkatan kadar senyawa toksik seperti amonia dan nitrit, serta perkembangan bakteri patogen. Limbah organik, baik dalam bentuk terlarut (dissolved) maupun padatan (suspended) tersebut juga berpotensi menurunkan daya dukung perairan bagi kehidupan organisme akuatik dan masyarakat jikatidak dikelola dengan baik. 
Limbah cair akuakultur memiliki kandungan unsur nitrogen terlarut sangat tinggi, dalam bentuk amonia, nitrit,dan nitrat. Jika dibuang langsung ke perairan umum atau digunakan kembali ke kolam budidaya bisamenyebabkan kematian ikan serta eutrofikasi yang menyebabkan gangguan ekosistem. 
Di sisi lain, nutrien yang terkandung tersebut berpotensi sebagai media bagi pengembangan pakan alami yang bisa menambah nilai ekonomis limbah tersebut.Selain itu, populasi mikroorganisme yang ada dalam limbah cair merupakan potensi besar karena bisamenjadi makanan alami bagi sejumlah spesies ikan budidaya seperti nila, udang vannamei, dan udang galah. Dan ternyata, lele pun memakan bioflok sehingga kebutuhan pakan bisaditekan.
Terkait hal ini beberapa hal yang perlu dipahami mengenai konsep teknologi bioflok adalah sebagai berikut. 1) Pemberian pakan berprotein tinggi mengakibatkan peningkatan kadar nitrogen (N) organik, seperti amonia dan nitrit, karena hanya 20–25% protein pakan yang terkonversi menjadi protein ikan, 2) amonia dan nitrit toksik bagi ikan sehingga menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kematian, 3) penambahan sumber karbon (C) organik, dalam bentuk molase (tetes tebu), tepung tapioka, tepung terigu, meningkatkan rasio C:N diatas 10 sehingga bakteri heterotrof berkembang, 4) bakteri heterotrof lebih efektif mengkonversi N di air media menjadi biomassa sel dibandingkan fitoplankton, 5) densitas bakteri heterotrof yang tinggi membentuk flok “bioflok” yang bisadimanfaatkan sejumlah spesies ikan sebagai sumber pakan tambahan, 6) agar sistem bioflok berjalan baik maka suplai oksigen (minimum 5 mg/L) dan pengadukan harus dilakukan.
Selain itu, pemilihan jenis bakteri sangat utama terhadap keberhasilan sistem bioflok, karena tidak semua bakteri mampu membentuk flok.  Bakteri positif—yangselama ini dikenal sebagai probiotik—merupakanpilihan tepat dalam penerapan budidaya sistem bioflok, satu di antaranya Bacillus subtillis.
Pemilihan jenis bakteri.Mikroba dengan kemampuan remediasi tinggi merupakan kunci utama keberhasilan penerapan sistem bioflok.  Dengan waktu pembelahan diri yang cepat (generation time 10–12jam) maka populasi bakteri heterotrof akan sangat cepat.
Bakteri yang dikenal handal sebagai remediator bahan organik adalah Bacillus sp.  Tanpa mengkultuskan jenis probotik yang dipakan (gambar 4), namun berdasarkan komposisi bakteri penyusunnya maka sangat logis kalau produk tersebut efektif digunakan sebagai agensia perombaklimbah organik dalam sistem bioflok.
Manajemen pakan. Selain pemilihan jenis pakan yang tepat, ada teknik tertentudalam pengolahan pakan sebelum digunakan. Yaitu melalui penerapan sistem fermentasi pakan sehingga nilai kecernaan pakan meningkat. 
Fermentasi dilakukan dengan menambahkan probiotik sebanyak 4 ml/Kg pakan, dibiarkan selama 2–7hari dalam tempat oksigen terbatas (an aerob).  Pada hari ke-3 fermentasi,ternyata pakan sudah ditumbuhi mikroba sehingga berwarna keputihan. 
Berdasarkan pengalaman, pakan yang telah difermentasi tersebut memberikan hasil positif, berupa ikan yang sehat. Kebalikannya pemberian pakan tanpa difermentasi berakibat pada banyaknya ikan yang luka. Alhasilterciptalah sistem budidaya lele hemat pakan, karena FCR-nya 0,7 – 0,8. 
Untuk menghemat biaya pakan dilakukan beberapa langkah khusus. Yaitu 1) penggunaan pakan dengan kadar protein tinggi (28–31) dihentikan dan diganti dengan pakan dengan kadar protein rendah, 22–24 setelah flok terbentuk dan 2) pemuasaan sehari tiap minggu setelah flok terbentuk (kandungan flok 150 mL/L media).
Manajemen air.  Sistem bioflok bukan berarti tanpa ganti air, karena jikadensitas flok terlalu tinggi berbahaya bagi keseimbangan sistem, khususnya kadar oksigen terlarut akan sangat rendah, sehingga ikan rawan stres dan kematian.
Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air pada beberapa bak pemeliharaan ikan lele, diketahui bahwa sistem tersebut cukup ideal, dengan level pH 8,0 – 8,1; oksigen terlarut 1,8 mg/L (bagian atas) dan 2,1 mg/L (bagian tengah); kadar nitrit 0 mg/L, dan kadar nitrat 0 mg/L
Literatur

Ikhsan Khasani Peneliti Balai Penelitian Pemuliaan Ikan

Pemberian Pakan Pada Budidaya Ikan Lele Sesuai Anjuran

Merupakan hal yang penting dan sangat berpengaruh besar dalam kesuksesan dalam kegiatan produksi budidaya perikanan yaitu pengetahuan tentang tata cara pemberian pakan pada ikan lele. Untuk itu pembudidaya dituntut untuk tidak melakukan kesalahan dalam pemberian pakan karena hal tersebut bisa mengakibatkan benih ikan lele mudah terserang penyakit atau menyebabkan ikan lele mengalami kematian.
Untuk itu pembudidaya agar dapat mengetahui cara pemberian pakan sesuai anjuran, adapun tata cara pemberian pakan pada ikan lele sebagai berikut:
1.     Waktu
2.    Persiapan
3.    Pemberian
Pemberian pakan pada pembenihan yaitu dengan pakan alami dan pembesaran dengan pakan tambahan, pakan alami pada pembenihan ikan lele yaitu dengan menggunakan cacing sutera sedangkan pada pembesaran ikan lele menggunakan pakan tambahan berupa pellet atau maggot, ikan rucah dll.
Penjelasan tata cara pemberian pakan pada ikan lele
1.     Waktu
Sebagai pembudidaya harus mengetahui waktu pemberian pakan pada ikan yang dibudidayakan, kapan ikan harus makan dan berapa kali dalam sehari. Waktu pemberian pakan yaitu tiga kali sehari pagi siang dan sore, dibiasakan waktu pemberian pakan pada saat pagi hari tidak dianjurkan kurang dari jam 09.00. karena menurut penelitian pemberian pakan sebelum jam 09.00 bisa berbahaya pada kesehatan ikan. Permukaan air masih tercemar oleh zat-zat berbahaya yang dibawa oleh udara. Dengan menunggu waktu pemberian pakan di atas jam 09.00 zat-zat berbahaya sudah menguap karena disinari matahari. Adapun penyakit yang bisa timbul akibat kebiasaan pemberian pakan terlalu pagi yaitu radang insang yang diakibatkan oleh parasite karena ikan memakan pakan yang tercampur oleh zat-zat merugikan.
2.    Persiapan
Dalam hal persiapan pemberian pakan pada budidaya ikan lele sering dianggap sepele oleh para pembudidaya padahal persiapan juga merupakan factor penting dalam usaha budidaya. Persiapan pemberian pakan yang benar adalah dengan cara membasahi terlebih dahulu pakan terutama jenis pellet terapung dengan menggunakan air hangat, fungsinya agar pellet bisa mengembang karena ikan lele merupakan jenis ikan yang rakus sehingga ikan bisa kenyang sesuai dengan dosis yang sesuai dengan ukuran perutnya. Kalau ikan memakan pellet yang tidak sesuai dengan anjuran makan ikan lele bisa memakan pellet secara berlebihan dan akibatnya pellet akan mengembang didalam perut yang bisa menyebabkan ikan mengalami kematian.
Pemberian pakan pada pembenihan dengan menggunakan cacing sutera, sebaiknya cacing yang telah dibeli dicuci bersih atau direndam dalam air bersih sebelum diberikan kepada benih ikan lele. Fungsinya agar kotoran yang menempel pada cacing sutera bisa terlepas.
3.    Cara Pemberian Pakan
Cara memberikan pakan yang baik juga wajib diketahui oleh para pelaku usaha budidaya ikan lele agar tata cara pemberian pakan lele menjadi lengkap dan tepat guna.
a.    Cara memberikan pakan yang berbentuk pelet apung harus dilakukan dengan cara menyebar pelet menjadi tiga bagian, untuk mudahnya kita umpamakan tiga bagian kolam adalah ujung kanan, tengah dan ujung kiri, langkah pertama adalah sebar pelet secukupnya pada sisi ujung kanan kolam, setelah pelet habis, sebar lagi secukupnya pada sisi tengah kolam, setelah habis sebar lagi pada sisi ujung kiri kolam, lakukan proses tersebut sampai ikan lele kenyang, cirinya adalah terlihatnya beberapa butir pelet yang tersisa pada saat ditebar dipermukaan kolam. Metode pemberian pakan seperti ini dilakukan agar ikan lebih aktif bergerak, sehingga membantu pertumbuhan ikan, selain itu, dengan cara ini para pelaku usaha budidaya ikan lele juga dapat mengontrol tingkat responsif ikan lele.
b.    Untuk pelet tenggelam cara memberikannya berbeda, pelet tenggelam tidak disebar, melainkan hanya ditebarkan pada satu titik, sesuai namanya sifat pelet tenggelam akan tenggelam pada saat ditebar, jadi tebarkanlah sedikit-sedikit, karena lele termasuk ikan yang suka mengejar pakan yang bergerak, jadi dikhawatirkan pelet yang terlanjur tenggelam tidak akan dimakan, jika pada titik pemberian pakan pelet tenggelam respon ikan sudah nampak menurun, sebaiknya pemberian pakan dihentikan, ulangi dan lakukan lagi prosesnya pada setiap pemberian pakan pelet tenggelam.
c.    Pada segmen pembenihan, pakan alami seperti cacing sutera diberikan dengan cara disebar di sudut, di sisi dan di bagian tengah kolam, cacing sutera yang telah dibersihkan/dibilas lalu diambil seujung tangan kemudian diletakkan pada titik yang berbeda, tehnik ini sangat efektif karena larva lele yang berjumlah ribuan yang tersebar di seluruh bagian kolam akan rata mendapatkan makanan.


Semoga informasi ini bermanfaat dan dapat meminimalisir tingkat kematian pada budidaya ikan lele